INFO TERKINI

Rabu, 29 Februari 2012

Gambar Pemandangan Pantai

Wisata Bali Timur

Jika Anda ingin mencari senang di Pulau Dewata, datang saja ke Bali bagian selatan. Di sana ada ingar-bingar Kuta, Legian, hingga pusat Kota Denpasar. Namun, apabila ketenangan yang Anda inginkan, pergilah ke Bali bagian timur. Mulai dari tempat peristirahatan, obyek wisata bernuansa spiritual dan sejarah, hingga aktivitas wisata bahari tersaji di depan mata. Sudah sedemikian lama Bali bagian timur dan utara berada di bawah bayang-bayang Bali bagian selatan, maupun kawasan wisata lain di Bali, seperti Ubud dan Kintamani, di Bali bagian tengah.Padahal, Bali bagian timur punya sejumlah kawasan wisata yang tidak saja elok panoramanya, tetapi juga punya cerita yang tak kalah dibandingkan dengan kawasan wisata lain yang lebih mendunia, seperti Pantai Kuta, Pura Tanah Lot, dan Pura Uluwatu. Di sana antara lain ada Pura Besakih, yang merupakan pura terbesar di Bali, serta tiga istana air (Tirta Gangga, Jungutan, dan Taman Ujung) yang kental dengan nuansa sejarah, berupa taman dan bangunan di atas air yang dibangun oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut, sekitar tahun 1919. Meski harus diakui panoramanya tidak seelok Kuta dan Nusa Dua yang termasyhur karena bibir pantainya yang panjang dan berpasir putih, kawasan Candidasa, sebuah kawasan wisata di Manggis, Karangasem, dengan 300 kamar hotel kelas bintang dan 400 kamar hotel kelas melati, akan menyuguhi wisatawan yang menginap di sana pemandangan lautan di Selat Lombok yang khas. Perairan di sekitar gugusan itu menjadi pusat kegiatan wisata bahari, tentu saja dilengkapi kawasan yang sudah lebih dulu dikenal, yakni Amed dan Tulamben, dua kawasan di ujung timur Pulau Bali. Bupati Karangasem I Wayan Geredek, kepada Kompas di kawasan wisata Candidasa, sehari setelah hari raya Nyepi 2008, mengakui selama ini Karangasem belum dikenal oleh wisatawan domestik ataupun mancanegara. Bahkan, daerah di ujung timur Bali itu seperti terlupakan dalam promosi pariwisata Bali maupun nasional. ”Lihat saja tanda penunjuk jalan atau area wisata, daerah di Bali bagian timur tidak pernah tercantum di sana,” kata Geredek melukiskan daerahnya. Data Badan Pariwisata Bali tahun 2007 mencatat, tingkat hunian hotel di kawasan Candidasa baru sekitar 50 persen, jauh di bawah kawasan lain di Bali yang bisa mencapai 90 persen sepanjang tahun.elabuhan kapal pesiar Salah satu momentum yang tengah ditunggu pemerintah kabupaten dan pelaku pariwisata di Karangasem untuk mengoptimalkan kepariwisataan di sana adalah pembangunan pelabuhan kapal pesiar bertaraf internasional yang diharapkan selesai semester pertama tahun 2009. Pelabuhan itu terletak di Labuhan Amuk, Manggis, sekitar 5 kilometer arah barat kawasan Candidasa. Kawasan itu bersebelahan dengan pelabuhan penyeberangan Padangbai. Menurut Geredek, pelabuhan itu kelak diharapkan dapat secara nyata mengangkat dunia pariwisata Bali bagian timur

Selamat Datang Di Tuk-Tuk Siadong

Tuk-Tuk Siadong, adalah semenanjung yang terletak di sebelah timur Pulau Samosir. Semenanjung kecil ini terletak diantara Desa Tomok dan Desa Ambarita. Kalau anda nggak perhatian banget dengan kondisi jalan, mungkin anda akan melewatkan wilayah ini. Alasan utama orang melewatkan wilayah ini tentunya karena ketiadaan sarana angkutan publik yang menuju Tuk-Tuk Siadong. Ya, angkutan umum lintas Samosir dari Tomok sampai Pangururan dan kembali sama sekali tidak melewati Tuk-Tuk Siadong. Oleh Karena itu, saya memutuskan untuk berjalan kaki mencapai Tuk-Tuk Siadong dari Pelabuhan Orang Tomok daripada menggunakan alternatif lain yang harganya lebih mahal. Pilihan lainnya hanya berupa : ojek, atau mobil carteran. Toh, jaraknya dekat, hitung-hitung sambil menyelami kebudayaan setempat (pada malam hari) hihihi.
Tuk-Tuk Siadong terkenal karena “keturisannya”. Yap, pertama kali memasuki kawasan ini, setelah menembus perbukitan-dan-sawah-entah-dimana, saya terkejut karena saya tiba-tiba teringat pada Bali atau lebih spesifik lagi : Legian dan Kuta. Betul, tempat ini nggak ubahnya kawasan Legian yang tersohor di Bali. Di saat wilayah lain di Samosir sudah menurun aktifitasnya selepas matahari terbenam, di Tuk-Tuk, roda kesibukan berputar hampir 24 jam lamanya. Tengah malam sekalipun, kalau anda kelaparan dan ingin menikmati makanan, anda bisa berkunjung ke warung-warung yang tersedia. Inilah rasa dan konsekuensi kawasan internasional di Tanah Samosir. Selain harga-harga penginapan dan makanan yang mengikuti standard turis asing, penduduk lokalnya (terutama pegawai hotelnya) jauh lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia ataupun Batak. Ngeliat tampang saya aja, mereka segera berceloteh dalam bahasa Inggris (sialnya, bahasa Inggris mereka kayaknya jauh lebih bagus daripada saya, walaupun tercampur dengan aksen Batak).Hahaha. Kalah dech.



Nggak Sengaja Ketemu Museum Simalungun


museum simalungun

Museum Simalungun, ini adalah salah satu objek yang nggak sengaja saya datangi saat berada di Pematang Siantar. Museum ini nggak ada di daftar itinerary saya. Lucunya, saat saya jalan kaki dari Vihara Avalokitesvara melintasi Jalan Jenderal Sudirman menuju ke arah pusat kota, saya malah ketemu dengan Museum Simalungun. Letaknya mudah dijangkau karena berada di tengah kota. Bangunannya diapit oleh dua bangunan besar yaitu Gereja GKPS Sudirman dan Kantor Polres Sudirman. Nggak perlu berpikir panjang dong saya langsung mampir.

Bangunan Museum Simalungun yang terletak di Kota Pematang Siantar ini berbentuk rumah adat yang sangat menarik. Namun jangan dikira bentuknya seperti Rumah Bolon (rumah adat Sumatera Utara) yang banyak di temui di sekitaran Pulau Samosir. Bentuknya sangat berbeda dengan Rumah Bolon. Mungkin bentuk bangunan seperti ini adalah ciri khas bangunan asal Simalungun. Hal yang paling membedakan adalah bentuk atapnya. Sedangkan untuk fungsi bangunannya sepertinya sama saja, berupa rumah panggung yang ruang utamanya ada di lantai dua. Selain pada atap, ornamen-ornamen yang menghiasi bangunan rumah adat ini juga sudah sangat berbeda. Namun warna merah, putih, dan hitam masih sangat mendominasi.

Belum Bisa Menyaksikan Pertunjukan Patung Menari Sigale-Gale



patung sigale-gale

Hanya selemparan batu dari Makam Raja Sidabutar ke arah luar terdapat objek lainnya yaitu Patung Sigale-Gale. Kalau Anda dari arah Pelabuhan Tomok urutan objeknya adalah Patung Sigale-Gale, Makam Raja Sidabutar, dan yang terakhir adalah Museum Batak. Karena Museum Batak saya kunjungi terlebih dahulu jadi urutannya terbalik. Hehe.. Patung Sigale-Gale terdapat persis di depan rumah adat Bolon. Di rumah tersebut terdapat tulisan pemiliknya yaitu T. Sidabutar. Apakah masih keturunan Raja Sidabutar? Nggak tau deh, mungkin iya. Menurut info, yang disebut rumah Bolon itu adalah rumah adat yang berukuran cukup besar dan biasanya dihuni oleh para raja dan keluarganya. Sementara rumah yang lebih kecil disebut Siamporik yang dihuni oleh para bangsawan. Kalau dilihat dari bentuk sepertinya memang nggak ada bedanya sih.

Nah, kalau patung Sigale-Gale adalah nama sebuah boneka dari kayu yang bisa menari. Agak penasaran juga ya, mana ada yang namanya patung bisa menari. Awalnya saya kira patung tersebut bisa menari karena ada hal yang mistis. Ternyata patung ini bisa bergerak dan menari karena digerakkan secara mekanis oleh manusia. Saat melakukan tarian, Sigale-Gale diiringi oleh alunan musik khas Batak Toba yaitu Gondang Mula-Mula, Gondang Somba, dan Gondang Mangaliat.

patung sigale-gale


Makam Raja Sidabutar ke-3, Batu Gajah, Batu Duduk (Tomok / Pulau Samosir); Cantik Namun Mengenaskan

Makam Raja Sidabutar ke-3, Batu Gajah, Batu Duduk (Tomok / Pulau Samosir); Cantik Namun Mengenaskan

Museum Batak Tak Bertuan Di Desa Tomok

Sumatera Utara adalah salah satu negeri dengan koleksi museum kebudayaan terbanyak di Indonesia. Gimana nggak mau banyak coba, untuk museum berkategori “Batak” sendiri saja ada beberapa dan tersebar di beberapa kota dan kabupaten di Sumatera Utara ini.

www.trimo-situmorang.blogspot.com

"TUNJUKAN KREASIMU" _ JANGAN PERNAH MENYERAH _
- - - - - - - -